Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Toko Buku Online
Tampilkan postingan dengan label spiritual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label spiritual. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Maret 2011

Spiritual Motivation Lailatul Qadar


Oleh:Cipto Sembodo, MA.

Lailatul Qadar
Pada sepertiga terakhir Ramadhan, umat Islam dianjurkan mengolah spiritualitasnya dengan ber-ikitikaf guna mendapatkan apa yang disebut "lailatul qadar", sebuah malam yang menentukan perubahan. Dengan mendapatkan lailatul qadar lengkap sudah paket pelatihan kepribadian muslim (Muslim Character building) pada bulan Ramadhan, suatu paket pelatihan menyeluruh untuk meraih taqwa.

Iktikaf ditujukan untuk sejenak melupakan hingar-bingar keriuhan dan kegemerlapan dunia dengan cara mendekatkan diri sepenuhnya kepada Allah swt Sang Khaliq Pencipta alam. Iktikaf secara khusus sangat dianjurkan pada sepertiga malam terakhir bulan Ramadhan di masjid.
Iktikaf dilakukan pada malam hari. Hal ini karena Islam sangat menghargai sekaligus mendorong umatnya untuk berkerja dan berkarya. Siang hari adalah saatnya bekerja dan berkarya, meraih prestasi duniawi. Itulah alasa mengapa iktikaf dilakukan pada malam hari. Selain itu, malam hari adalah saat yang tepat untuk merenung, berefleksi di tengah sunyi-nyenyaknya tidur kebayakan orang.
Iktikaf pada bulan suci Ramadhan sering dikaitkan dengan dalam dalam rangka mendapatkan lailatul qadar. Rasulullah sendiri tidak pernah absen beriktikaf selam 10 hari terakhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat. Hadits dari Aisyah menyatakan bahwa lailatul qadar ada pada 10 hari terakhir Ramadhan."Dari Aisyar R.A, sesungguhnya Nabi SAW. bersabda: "Dapatkanlah lailatul qadar pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan"" (H.R. Muslim)

Motivasi Spiritual untuk Perubahan
Sebagian Muslim memahami lailatul qadar sebagai fenomena yang kasat mata.Tetapi tidak jarang mereka menjadi kecewa karena merasa telah beriktikaf sepanjang 10 hari terakhir bulan Ramadhan namun tidak menjumpai lailatul qadar.

Memang ada beberapa riwayat yang menuturkan tanda-tanda alam lailatul qadar. Pemahaman lailatul qadar sebagai fenomena kasat mata karena itu tidak sepenuhnya salah. Tetapi hemat penulis, lailatul qadar perlu lebih dipahami sebagai malam mulia. Lailatul qadar itu seumpama tamu agung suci yang hanya mendatangi dan menemui orang-orang yang telah suci jiwa dan raganya setelah hampir sebulan menjalankan ibadah puasa, mensucikan diri dan hatinya secara terus-menerus dan ikhlas.
Dengan demikian, lailatul qadar tidak bisa diraih secara instant, potong kompas dan semacamnya. Lailatul qadar bukan seperti birokrasi kita saat ini yang telah banyak disuap dan dimanipulasi. Bukan pula lembaga penegakan hukum yang mudah didudupi mafia keadilan. Lailatul qadar adalah malam mulia, malam yang menentukan untuk perubahan. Lailatul qadar lebih mulia, ebih baik dari 1000 bulan, setara 83,3 tahun usia manusia. Lailatul qadar adalah momen pencapaian motivasi spiritual yang menentukan agenda perubahan ke arah lebih baik dari pelatihan kebaikan melalui puasa ramadhan
.
Tips Iktikaf Meraih Lailatul Qadar
Lailatul Qadar tidak bisa diraih secara instant dan tergesa-gesa. Ia adalah malam yang suci, dan hanya orang-orang dengan hati, jiwa dan raga yang suci pula yang bisa merasakan kehadirannya. Maka sucikanlah puasa Anda sepenuh hati,seutuh niat dan pikiran Anda, dan segenap jiwa raga jika ingin merasakan kehadiran lailatul qadar.

Shvoong
Situs ringkasan dunia
Lailatul Qadar: A Spiritual Motivation Originally published in Shvoong: http://id.shvoong.com/humanities/religion-studies/2036967-lailatul-qadar-spiritual-motivation/

Menulislah di shvoong.com, anda dibayar dollar!
Klik di sini untuk sign up


Artikel terkait lainnya:

Kebiasaan yang Merusak Otak
Puasa Melejitkan Kecerdasan Emosi dan Spiritual
Berzikir Menyehatkan Syaraf

Puasa Melejitkan Kecerdasan Emosi Spiritual



Setiap bulan Ramadhan umat Islam diwajibkan untuk ber-puasa. Sebenarnya apa pengertian puasa ditinjau dari perspektif ilmu-ilmu sosial? Sering kita dengar, tujuan puasa adalah taqwa dan puasa itu menyehatkan. Bagaimanakah meletakkan semua atribut keagamaan itu agar relevan secara sosial serta memberikan kontribusi positif dan nyata?

Salah satu upaya itu dapat dijelaskan dengan perspektif integrasi dan interkoneksi ilmu-ilmu sosial dan teks-teks normative keagamaan. Dalam konteks bulan Ramadhan, maka puasa yang secara fiqh disebut ibadah ternyata mampu melejitkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Bagaimanakah hal ini terjadi. Beberapa paragraf di bawah ini berusaha menjelaskan hikmah besar dibalik rukun Islam yang ke-empat itu.

Puasa adalah Ibadah Tanpa Bentuk
Puasa secara Syar'i adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya, yaitu makan, minum dan semacamnya dan pemenuhan nafsu dan kebutuhan biologis sex, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. (Al-Baqarah 187). Sedangkan ketentuan hari-harinya selama satu bulan penuh disebutkan pada surat yang sama ayat 185.

Pengertian puasa sebagai menahan diri ini tentu saja seiring dengan pengertian bahsanya. Dalam bahasa Arab, Shiyam atau Shaum berarti menahan diri, mengekang, menjaga. Dalam pengertian longgar mungkin lebih tepat diartikan "mengelola". Bukankah menahan diri untuk tidak berbicara juga disebut "puasa bicara?" Tentang puasa bicara, menahan diri dari tidak berbicara, al-Qur'an juga menyebutnya dengan istilah Shaum. Ini terjadi pada kasus Ibunda Nabi Isa , seperti diceritakan dalam surat Maryam ayat 26.

Jelas dari pengeritan di atas bahwa puasa itu ibadah tanpa bentuk. Maksudnya bukan tidak ada bentuknya, tetapi bentuknya tidak kasat mata, tidak dapat dilihat, diraba, disentuh, dicium dan didengar dengan panca indra. Mengapa ? karena ditilik secara praktis-amalan yang dikerjakannya, puasa bukanlah kata-kata atau do'a. Bukan pula sebentuk gerakan-gerakan tertentu semacam shalat, dzikir. Puasa juga tidak menggunakan materi sebagai medianya seperti zakat atau sodaqoh.

Tetapi disitulah terletak keistimewaan puasa. Karakteristik "non-verbal" dan "tak-kasat mata" dan tak berbentuk inilah yang menjadikan puasa efektif sebagai metode atau terapi Ilahi untuk pendidikan dan character bulding manusia. Sebab, puasa tidak dapat dipamerkan dan dijadikan ajang atau media menampakkan kesalehan religius atau mempertontonkan keberislaman semu di muka publik atau terhadap orang lain sekalipun. Di sinilah maksud hadits Qudsi Nabi SAW. riwayat al-Bukhari bahwa puasa itu bersifat private. "Setiap amal anak adam itu adalah milik ia sendiri, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku (Allah swt), dan Aku (Allah swt)-lah yang akan membalasnya.

Taqwa dan Kecerdasan Emosional-Spiritual (Taqwa dan ESQ)
Puasa adalah rukun/pilar Islam yang ke-empat. Keberislaman seseorang tidak akan tegak tanpa puasa. Begitu penting puasa, hingga diwajibkan oleh Allah swt sendiri dalam surat al-Baqarah 183 maupun Rasulullah saw.dalam hadits rukun Islam.

Letak pentingnya puasa sesungguhnya berada pada diri pelakunya sendiri. Dalam Qur'an disebutkan, puasa bertujuan agar kalian menjadi bertaqwa. Menjadikan artinya memproses, mengolah diri dan jiwa yang berpuasa menjadi berkepribadian taqwa. Jadi taqwa adalah "kualitas" kepribadian, atau pribadi yang berkualitas.Makna kualitas ini tampak dalam ciri-ciri orang yang bertaqwa (muttaqin) seperti disebutkan dalam Qur'an, misalnya surat al-Baqarah ayat 1-5 dan Ali-'Imran ayat 133-136.

Pada suarat al-Baqarah ciri-ciri muttaqin yaitu percaya pada hal-hal ghaib, mendirikan shalat, menginfakkan sebagian rizqi-Nya. Setelah itu adalah orang yang membenarkan kitab-kitab sebelum al-Qur'an serta percaya pada hari akhirat. Senada dengan itu, surat Ali 'Imran menandai orang bertaqwa adalah mereka yang berinfaq/tetap memberi dikala susah, sempit maupun dikala lapang dan senang, mampu manahan amarahnya dan memberi maaf kepada manusia yang berbuat salah kepadanya. Disambung setelah itu dengan ingat kepada Allah swt dan segera bertaubat tidak mengulangi perbuatannya yang keji dan berhenti menganiaya/merugikan diri sendiri.

Kedua surat itu ternyata sama-sama menyebutkan untuk tetap berinfaq atau memberi, menyisihkan sebagian harta kepada orang yang membutuhkan baik di kala sempit maupun di kala lapang, mampu menahan amarah dan memaafkan. Bagi seorang Muslim, ini haruslah dimaknai untuk tetap dan senantiasa berbagi "materi", tidak kikir kepada kaum papa dan mereka yang tidak berpunya dalam kondiri apapun. Pada saat yang sama tidak gampang marah, lepas kendali karena marah dan pemaaf.

Perintah dan karakter moral religious seperti itu memang mudah diucapkan. Tapi jelas membutuhkan kemampuan dan pembiasaan, latihan lebih untuk melaksanakannya.
Pertama membutuhkan daya intelektual untuk memahami dalam jangka panjang dan strategis bahwa mampu manahan amarah artinya mengelola emosi agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Dan berbagi materi artinya adalah berbelas kasihan. Lebih dari itu juga membutuhkan kematangan emosional. Tetapi di atas kedua kecerdasan intelektual dan emosional itu diperlukan kecerdsan spiritual untuk mempertahankan keajekannya, kontinuitasnya. Kecerdasan spiritual diperlukan untuk memandu dan menemukan makna hakiki kehidupan dan perbuatan kita di dalamnya, sehingga tidak kecewa di saat-saat sulit serta mampu mempertahankan kebiasaan positif dan humanis itu.

Nah, puasa, dengan karakteristiknya yang non-verbal dan kasat mata itulah yang akan mengantarkan pelakunya mempunyai kepribadian berkualitas atau bertaqwa ini. Bukankah dengan puasa kita diajari untuk ikhlas, tidak pamer ibadah apalagi kemegahannya?Bukankah dengan tidak makan-minum secara sosial kita sebenarnya diajari untuk ikut merasakan, berempati terhadap penderitaan orang lain? Puasa mengajari kita untuk konsisten terus menerus berbuat kebajikan. Semuanya tentu sangat efektif karena dibungkus dengan pahala Ramadan. Wallahu a'lam.
Puasa Melejitkan Kecerdasan Emosi dan Spiritual Originally published in Shvoong: http://id.shvoong.com/humanities/religion-studies/2029224-puasa-melejitkan-kecerdasan-emosi-dan/

Ingin menulis dibayar dollar?
Ikutan di sini



Artikel lain terkait:

11 Kebiasaan yang Merusak Otak
Berzikir Menyehatkan Syaraf
Motivasi Spiritual Lailatul Qadar